03 April 2025

Terima Kasih

Terima Kasih


Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya pelaksanaan zakat fitrah telah selesai dan pembagian juga sudah tersalurkan. Atas nama lembaga amil zakat infak dan shodaqoh Nahdhatul Ulama desa Banglarangan ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Muzakki yang telah menyalurkan zakat fitrah di pos Mushola dan Masjid Jami’ Baitussalam.

Baca Juga : Kebangkitan Nasional, Frontier Spirit dan Mental Menerabas

Penyaluran zakat fitrah kepada yang berhak seperti golongan fakir (al-Fuqara), miskin (al-Masakin), al-Amin (Panitia Zakat) dan juga sabilillah (jihad dijalan Allah) yang ada dilingkungan sekitar. Tidak hanya peran muzakki yang begitu penting, ada peran yang sangat sentral dari penerimaan zakat fitrah tentu para petugas dan Pengurus LAZISNU yang telah bekerja keras dalam melaksanakan tugasnya. Kerja keras dan dedikasi yang telah membawa LAZISNU menjadi lebih baik dan maju.

Apresiasi juga disampaikan ketua LAZISNU yang menyampaikan sangat menghargai kesabaran, ketekunan, dan kegigihan dalam menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan. Bahwa dalam kerja sama dan kebersamaan dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Terima kasih atas segala upaya dan kontribusi, semoga Allah SWT membalas segala kebagikan dengan pahala yang berlimpah,”ujar ketua Lazisnu Banglarangan sahabat Giyarto.


Sumber : Petikan Chat Whatshapp

Temukan Khasiat Kembang Krisan di Balik Keindahannya

Temukan Khasiat Kembang Krisan di Balik Keindahannya

Dibalik keindahanannya sebagai flora hias, tanaman krisan (Chrysanthemum sp) baik daun  maupun bunganya ternyata banyak dimanfaatkan sebagai bahan ramuan pengobatan tradisional. Herminia De Guzman Ladion seorang pakar kesehatan Filipina, memasukkan krisan sebagai salah satu jenis tanaman obat penyembuh ajaib. Khsaiat kembang krisan dalam dunia pengobatan misalnya untuk menyembuhkan sakit batuk, nyeri perut karena angin, dan peradangan rongga sinus ( sinusitis ).

Baca Juga : Beberapa Faktor Pelanggaran Disiplin Anak di Kelas dan Cara Mengatasinya

Perebusan daun dan kembang krisan dalam dua gelas air selama lima belas menit mampu mengobati sakit batuk produktif (batuk berlendir) akibat kongesti dan bronchitis. Sedangkan perebusan akar krisan dapat digunakan untuk obat sakit kepala. Tunas dan bunganya dapat dimakan sebagai salad, dan daunnya dapat dimasak untuk minuman dalam acara-acara meriah. Selain itu krisan juga mampu menurunkan demam, menurunkan tekanan darah, memperbaiki penglihatan, member gizi pada darah, serta menurunkan panas dalam. Disamping itu rasanya nikmat dan menyejukkan tenggorokan.

Karena khasiat-khasiat tersebut, bunga krisan juga termasuk salah satu bahan ramuan yang penting pada pengobatan tradisional Cina. Selain digunakan sebagai flora hias, belum banyak orang yang tahu bahwa kembang krisan ternyata juga dapat dinikmati sebagai minuman seperti lazimnya orang menikmati seduhan the. Selain khasiatnya yang beragam tersebut, rasanya pun tak kalah nikmat dengan minuman the yang biasa kita minum.

Nikmatnya rasa teh kembang krisan tersebut kini dapat anda jumpai dalam minuman kemasan kotak yang di produksi merk kenamaan yang ada di Indonesia. Tanpa harus menyeduhnya terlebih dulu, anda dapat langsung menikmati setiap saat. Minuman kemasan teh kembang krisan merupakan produk teh krisan alami yang dibuat dari bahan-bahan pilihan dan tanpa pengawet. Diproses dengan menggunakan mesin-mesin khusus dibawah pengawasan tenaga-tenaga ahli sehingga menghasilkan produk yang bermutu tinggi. Kemurnian rasa dan khasiatnya juga terjaga, sehingga baik untuk seluruh keluarga.


Sumber : Majalah Intisari.agustus.2001

29 Maret 2025

Penerimaan Zakat Fitrah Di Masjid Baitussalam Desa Banglarangan di Malam Ke-4

Penerimaan Zakat Fitrah Di Masjid Baitussalam Desa Banglarangan di Malam Ke-4


Zakat Fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan  oleh setiap muslim yang mampu pada bulan Ramadan, sebagai simbol kebersyukuran atas nikmat Allah SWT. Zakat merupakan salah satu rukun Islam sebagai pondasi wajib bagi orang-orang yang beriman dan merupakan dasar dari kehidupan muslim. Perintah Zakat sangat jelas didalam Firman Allah SWT Surat At-Taubah ayat 103: Artinya : “Ambillah zakat dari sebagai harta mereka, dengan itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Baca Juga : Kapan Puasa, Idul Fitri dan Idul Adha Menurut NU ???

Rasulullah sendiri menyampaikan yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah : “Rasulullah SAW mewajibkan membayar zakat fitrah sebagai pembersih orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan tutur kata yang keji serta pemberian makan fakir miskin. Barang siapa membayar zakat fitrah sebelum Sholat ‘Ied termasuk zakat yang diterima dan barang siapa yang membayar zakat sesudah Sholat ‘Ied termasuk sodaqoh biasa.”

Berdasarkan pantauan Lazisnu online dan data yang diberikan oleh Ketua Lazisnu Banglarangan bahwa penerimaan zakat fitrah tahun 2024 dengan tahun 2025 menunjukkan partisipasi masyarakat di wilayah Masjid Baitussalam hingga malam ke-4 pelaksanaan zakat fitrah baru 26%. Data muzaki masjid di tahun 2024 sebanyak 989 muzaki, dan muzaki yang baru masuk pada malam ke-4 di Pos Masjid baru 258 muzaki. Artinya masih banyak masyarakat yang berfikiran pemberian zakat fitrah lebih afdol diberikan pada malam hari raya.  Ikhtiar untuk meringankan beban pentasyarufan sangat diperlukan, mengingat akan saudara-saudara kita yang sangat membutuhkan dan efisiensi waktu pemberian beras zakat.

Ada pendapat terkait waktu pengeluaran zakat fitrah ini, sebagaimana terangkum dalam Al-Majmu’ Syarah Al- Muhadzah li al-Nawawi juz 6, h. 87-88 yang bisa dikutip sebagai berikut : “Boleh menyegerakan pembayaran zakat fitrah sebelum datang masa wajibnya dikeluarkan (malam 1 Syawal) dengan tanpa khilaf berdasar keterangan penyusun kitab. Adapun mengenai waktu ta’jil (menyegerakan) ada 3 pendapat, yaitu: (1) Pendapat yang shahih sebagaimana ditegaskan penyusun kitab dan mayoritas ulama, yaitu boleh membayarkannya di semua waktu dari bulan Ramadan, namun tidak boleh bila dilakukan sebelum Ramadan.”

Penerimaan zakat firah di pos musola-musola sendiri sudah selesai 99% berdasarkan data pembanding dari tahun 2024 sampai dengan 2025. Maka dari itu himbauan kepada masyarakat diharapkan menyegerakan Zakat Fitrah agar distribusi atau penyaluran beras zakat fitrah lebih diterima masyarakat yang membutuhkan sehingga senyum kebahagiaan terpancar dari wajah mereka.


Sumber : NU Online

27 Maret 2025

Kapan Puasa, Idul Fitri dan Idul Adha Menurut NU ???

Kapan Puasa, Idul Fitri dan Idul Adha Menurut NU ???

Secara hisab, ulama-ulama NU sudah bisa menentukan kapan sebenarnya bulan ramadan masuk dan begitu juga saat syawal tiba. Tapi, ulama NU tidak berani mendahului kehendak Allah SWT sehingga selalu menulis catatan dalam kalender NU, untuk penentuan awal bulan Qomariyah ditunggu hasil rukyat. 

Baca Juga : Sunnah-Sunnah Yang Di Lakukan Saat Lebaran

Sebagai ta'abudi (Pertimbangan Ibadah ), ulama NU selalu mengawali bulan dengan rukyat, khususnya untuk bulan ramadan, syawal dzulhijjah. NU tidak ingin menyombongkan diri dengan mendahului kehendak Ilahi. Sebab, dalam sekian hitungan hisab itu selalu ada perbedaan hasil konjungsi dan posisi bulan. 

Lalu mau dipakai yang mana? Nah, rukyatlah yang bisa menyatukan semua hasil hitungan itu. Bahkan ulama Arab Saudi Syaikh Abdul Mohsen al Obaikan menyatakan hisab sebagai penentu awal bulan adalah bid'ah.

Baca Juga : Sunah Dan Doa Waktu Hari Raya

Muktamar NU ke-27 situbondo Jawa Timur tahun 1984 juga mempercayakan penetapan awal bulan kepada pemerintah, sepanjang pemerintah dalam penetapan itu mempergunakan hasil rukyat, bukan hisab. Jika hanya pertimbangan hisab, maka tidak wajib diikuti. Rukyat bagi NU adalah harga mati.


Sumber Risalah NU

By LD MWC NU Ampelgading (Fuad Zainudin)

25 Maret 2025

BERBURU HARI RAYA, LEBARAN Ataukah PREDIKAT IDUL FITRI ?

BERBURU HARI RAYA, LEBARAN Ataukah PREDIKAT IDUL FITRI ?

Setiap manusia yang lahir kedunia ini dalam kondisi suci dari segala dosa inilah keyakinan lslam, maka tidak perlu ada pembaptisan seperti doktrin nasrani dan seterusnya. Namun kesucian tersebut sangat rentan ternodai oleh gemerlapnya kehidupan duniawi, kompetisi kehidupan yang culas, curang dan seterusnya. manusia yang kering akan spiritualitas di sandingkan dengan kompetisi yang tidak sehat memaksa meletakkan kesuciannya dibawah ambisi duniawiah, namun atas rahmat Allah SWT lah dianugrahkannya bulan Ramadan, yang secara bahasa membakar, yaitu membakar egoisme, keangkuhan, keserakahan, kesesatan, kealpaan, dosa dan seterusnya. 

Baca Juga : Sucikan Hati, Bersihkan Jiwa Bayar Zakat Fitrah di Bulan Penuh Berkah

Selain itu Ramadan mengandung tiga keistimewaan sekaligus yaitu bulan kasih sayang, ampunan dan pembebasan dari siksa neraka. Itulah yang memotivasi meningkatnya spiritualitas pada bulan tersebut. sayangnya pada tingkat tertentu hanya terjebak pada kesalehan simbolik. Masih pada keistimewaan Ramadan dalam salah satu hadits dinyatakan Ramadan adalah bulan mulia sekaligus keberkahan yang di dalamnya terdapat Lailatul Qodar, di wajibkannya puasa, di sunahkan tarawih, amal kebaikan dihargai sebagaimana ibadah fardlu pada bulan lainnya, amalan fardlu di balas 70 kali lipat, Ramadan mengajarkan kita untuk bersabar, balasan dari kesabaran adalah surga, bulan Ramadan juga mengajarkan kita untuk mempererat solidaritas antar sesama, begitulah hadits Nabi. 

Namun golden momen tersebut tidaklah mudah diraih oleh umat lslam, ini tercermin dari kualitas puasa itu sendiri ada 3 kualifikasi tingkatan puasa, ( 1 ) puasa tingkatan dasar, yaitu mereka yang berpuasa hanya sekedar meninggalkan sesuatu yang membatalkan puasa, ini merupakan puasa pada umumnya umat lslam, ( 2 ) puasa  tingkatan menengah, selain meninggalkan sesuatu yang membatalkan puasa juga menjaga seluruh organ tubuhnya dari perbuatan dosa serta menghindari dari perbuatan yang membatalkan pahala puasa itu sendiri, ini puasanya orang sholeh, ( 3 ) tingkatan elit, selain menghindari dari yang membatalkan pahala puasa juga menjaga hati agar selalu ingat Allah SWT, yaitu puasanya para sodiqin dan auliya. 

Pada sisi lainnya menjelang Idul Fitri godaan terberat bagi seorang yang berpuasa diantaranya : tidak mencintai kaum dhuafa, salah memaknai akhir Ramadan, sibuk mempersiapkan lebaran dan menganggap Idul Fitri sebagai hari pembebasan. dari kualitas itulah puasa dan godaan godaan tersebut yang menyebabkan umat lslam hanya memburu hari raya, lebaran ataukah pantas menyandang predikat Idul Fitri? Idul Fitri, kembali ke fitrah, kembali suci. yang artinya sedang berada diluar kesucian. Maka Idul Fitri hanyalah untuk orang dewasa yang telah mengotori diri sendiri dengan noda dan dosa setelah lahir dalam kondisi suci. maka Idul Fitri tidak untuk anak-anak yang belum terbebani hukum ( mukallaf ), mereka masih menikmati fasilitas kefitrahannya yang merupakan servis lslami sebelum masa berlakunya berakhir, melainkan untuk orang dewasa yang telah mengotori dirinya sendiri.

Baca Juga : Mengenal Lebih Dekat Calon Ketua Kopri PMII, Jelang Konfercab PMII Pemalang

ldul Fitri juga bisa bermakna ldul futhur, kembali sarapan pagi. ini juga berlaku bagi mereka mereka yang telah satu bulan tidak sarapan pagi ( puasa ). Orang yang berbuat maksiat pasca puasa Ramadan bagaikan orang yang sudah mandi bersih, pakai sabun, shampo, berhanduk lalu perpakaian serba putih nan bersih bertabur parfum dan aksesoris, lalu berjalan keluar rumah mengambil kotoran, kemudian di oleskan ke tubuhnya dan di tabur taburkan mengenai pakaiannya. ternyata para setan aktif kembali di bulan syawal ( syala - yasyulu - syawalan = lepas ) setelah sebulan di rantai. setan mengkoordinasi mitra kerjanya dan mempersiapakan jebakan terindahnya, ada dangdut ketupat, goyang Idul Fitri dan seterusnya.

Sungguh mereka adalah agen agen setan yang memanfaatkan momen Idul Fitri. Dengan demikian kita dapat mengukur kualitas puasa diri kita masing masing, apakah sebatas gembira berhari raya yang penting bersuka cita dengan hari raya tanpa menjalankan puasa sebelumnya, atau lebaran yang bagi sebagian umat lslam yang terpenting sudah berpuasa walaupun tidak membekas apapun pada dirinya dan tidak ada perubahan berarti pasca Ramadan, atau benar benar predikat Idul Fitri yang mampu mengembalikan dirinya kepada kefitrahannya sebagai bekal menghadapi 11 bulan berikutnya.

Ramadan bukanlah sasaran utama kita, tetapi sebagai sebuah sarana mengembalikan kefitrahan manusia itu sendiri. besar harapan kita, ibadah puasa Ramadan mampu memperbaiki diri kita untuk menhadapi tantangan yang lebih kongkrit pada bulan bulan berikutnya. puasa dan ibadah ibadah lainnya baru bisa bermakna bila ia berimplikasi secara sosial. Seseorang yang berpuasa bisa berempati dengan kaum dhuafa yang biasa akrab dengan lapar dan dahaga. Seiringin doa Aidin Ilal Fithroh Wal Faizin Bil Maghfiroh Wa Rohmah.


By LDNU MWC NU Ampelgading (Fuad Zainudin)